Jakarta (cvtogel alternatif)– Semangat kemandirian warga dalam menghadapi bencana dan krisis kini semakin menguat. Mengusung slogan “Siap Siaga Tanpa Menunggu Negara, Membangun Ketangguhan dari RT”, sejumlah komunitas lokal mendorong kesadaran bahwa kekuatan pertama dalam menghadapi situasi darurat berawal dari lingkup terkecil masyarakat, yakni Rukun Tetangga (RT).

Ketua Forum Siaga Warga, Ahmad Prasetyo, menegaskan bahwa pemerintah memang memiliki peran besar, namun kemampuan komunitas lokal menjadi penentu utama saat bencana datang tiba-tiba. “RT adalah garis depan. Jika warganya terlatih, saling bahu-membahu, dan punya sistem siaga, maka dampak bencana bisa ditekan sebelum bantuan resmi datang,” ujarnya, Kamis (3/10).

Gerakan Ketangguhan Berbasis RT

Konsep ketangguhan masyarakat ini mencakup beberapa aspek, mulai dari kesiapsiagaan bencana, ketahanan sosial, hingga ketahanan ekonomi.

  • Warga di tingkat RT didorong membentuk tim siaga darurat dengan pelatihan pertolongan pertama, jalur evakuasi, hingga sistem komunikasi sederhana seperti grup WhatsApp dan kentongan.

  • Lumbung pangan dan iuran darurat warga dipersiapkan untuk kebutuhan mendesak ketika krisis melanda.

  • Kegiatan gotong royong, penghijauan, dan pengelolaan sampah turut masuk dalam agenda ketahanan lingkungan.

“Kalau ada banjir atau kebakaran, siapa yang pertama datang? Pasti tetangga. Karena itu, membangun ketangguhan harus dimulai dari RT, bukan menunggu instruksi jauh dari atas,” tambah Ahmad.

Dukungan Pemerintah dan Swadaya Warga

Meski gerakan ini menekankan kemandirian warga, sinergi dengan pemerintah tetap dibutuhkan. Aparat desa, BPBD, hingga lembaga kemanusiaan diharapkan memberikan dukungan berupa pelatihan, peralatan, serta jaringan informasi.

Namun pada akhirnya, warga sendirilah yang menjadi kunci. “Kita tidak boleh hanya menunggu. Dengan kesiapan dari bawah, RT bisa menjadi benteng pertama sekaligus pondasi kuat bagi ketangguhan nasional,” pungkas Ahmad.