Jakarta (cvtogel) — Pakar Budaya dan Komunikasi Digital Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, mengimbau para orang tua. Agar mendampingi anak-anaknya dalam mengakses gim daring secara bijak dan sehat. Menurutnya, gim digital bukan hanya sekadar hiburan. Tetapi juga ruang interaksi sosial yang perlu diawasi agar tidak berdampak negatif pada perkembangan anak.

Firman menjelaskan bahwa pendampingan orang tua sangat penting untuk memastikan anak mendapatkan manfaat positif dari permainan digital. “Anak perlu dikenalkan pada dunia digital dengan pendampingan yang penuh perhatian. Orang tua perlu tahu apa yang dimainkan anak, dengan siapa mereka bermain, dan bagaimana interaksi di dalamnya,” ujarnya.

Ia menilai, pendekatan yang tepat bukanlah dengan melarang anak bermain gim sepenuhnya, melainkan dengan mengatur waktu, jenis gim, dan cara bermain. Firman menyarankan agar orang tua membuat jadwal khusus bermain gim, misalnya maksimal satu jam per hari di luar waktu belajar dan istirahat. Selain itu, anak juga perlu diberikan kesempatan melakukan aktivitas lain seperti olahraga, membaca, dan berinteraksi langsung dengan teman sebaya.

“Anak-anak perlu belajar bahwa gim hanyalah salah satu bentuk hiburan, bukan satu-satunya. Dengan keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata, mereka dapat tumbuh lebih sehat secara mental maupun sosial,” tambahnya.

Pakar tersebut juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Orang tua disarankan ikut terlibat dalam memilih gim yang sesuai dengan usia anak, memahami alur permainan, serta mendiskusikan nilai-nilai positif maupun negatif yang mungkin muncul dari gim tersebut. Dengan begitu, anak tidak merasa diawasi secara berlebihan, melainkan didampingi.

Selain itu, pemerintah Indonesia tengah mendorong penerapan Indonesia Game Rating System (IGRS) — sistem klasifikasi usia untuk gim yang akan diterapkan secara lebih ketat mulai tahun 2026. Sistem ini bertujuan memberikan panduan bagi orang tua dalam memilih konten permainan yang sesuai umur dan aman bagi anak.

Firman juga mengingatkan, tanda-tanda kecanduan gim perlu diwaspadai, seperti anak yang sulit berhenti bermain, kehilangan minat terhadap kegiatan lain, atau menunjukkan perubahan suasana hati saat tidak bisa bermain. Jika hal ini terjadi, orang tua perlu meninjau kembali pola penggunaan gawai di rumah dan, bila perlu, berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Ia menutup dengan pesan bahwa pendampingan digital harus dilakukan dengan empati, bukan hukuman. “Anak-anak tumbuh di era digital yang berbeda dari generasi orang tuanya. Tugas kita bukan memutus mereka dari teknologi, tetapi membimbing agar mereka bisa menggunakannya secara sehat dan bertanggung jawab,” kata Firman.