
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat memberikan sambutan di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 Jumat (28/11/2025). (Dok. Screenshoot Youtube BI)
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada pada posisi undervalued atau lebih rendah dari nilai fundamentalnya.
Menurut Perry, pelemahan rupiah belakangan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti ketidakpastian global dan penguatan dolar AS, bukan karena kondisi ekonomi domestik yang memburuk. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan mendukung penguatan rupiah ke depan.“Secara fundamental, rupiah seharusnya berada pada level yang lebih kuat. Kondisi saat ini mencerminkan adanya undervaluation,” ujar Perry dalam keterangannya di Jakarta.Ia menjelaskan bahwa indikator ekonomi utama, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terkendali, serta kinerja ekspor dan neraca transaksi berjalan, masih menunjukkan kondisi yang solid. Hal ini menjadi dasar keyakinan bahwa nilai tukar rupiah memiliki ruang untuk kembali menguat.Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan penguatan kebijakan moneter. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah juga terus diperkuat guna menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.Perry menambahkan bahwa Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan global, termasuk kebijakan suku bunga negara maju, yang dapat memengaruhi arus modal dan pergerakan nilai tukar.“Kami memastikan stabilitas rupiah tetap terjaga sesuai dengan fundamental ekonomi dan mekanisme pasar,” tegasnya.Pernyataan ini memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar bahwa tekanan terhadap rupiah bersifat sementara. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan kondisi ekonomi domestik yang kuat, diharapkan nilai tukar rupiah dapat kembali mencerminkan nilai yang sebenarnya dalam waktu mendatang…selengkapnya
