Depresi atipikal adalah salah satu jenis atau tipe dari gangguan depresi mayor atau major depressive disorder (MDD) yang paling sering terjadi. Masalah kesehatan mental ini sering kali menunjukkan gejala depresi pada umumnya, hanya saja mereka mudah mengalami reaktivitas suasana hati.

 

Lantas, bagaimana cara mendiagnosis dan mengatasi depresi atipikal? Simak penjelasan selengkapnya mengenai depresi atipikal melalui artikel di bawah ini hingga tuntas.

Apa itu Depresi Atipikal?

Seperti disebutkan sebelumnya, depresi atipikal atau atypical depression (AD) adalah jenis gangguan depresi mayor, namun tidak menunjukkan gejala khas depresi. Pada dasarnya, pasien dengan atypical depression memiliki gejala depresi mayor, yaitu perasaan sedih terus-menerus, penurunan nafsu makan, sulit tidur, kecenderungan untuk bunuh diri, dan lain-lain.

Hal yang membedakan depresi atipikal dengan gangguan depresi mayor adalah adanya reaktivitas suasana hati. Perlu diketahui, reaktivitas suasana hati adalah perubahan suasana hati ke arah yang lebih baik sebagai respons tubuh terhadap hal positif yang dialami. Berbeda dengan pengidap depresi mayor yang tidak menunjukkan respons apa pun saat mengalami kejadian positif atau menyenangkan.

Depresi atipikal cukup umum ditemukan, yaitu terjadi pada 15–35% orang dengan gangguan depresi. Kondisi ini lebih sering terjadi pada jenis kelamin wanita dibandingkan pria. Gejala depresi atipikal biasanya muncul pada usia remaja atau usia 20 awal.

Penyebab Depresi Atipikal

Tidak diketahui secara pasti apa penyebab dari depresi atipikal. Meski begitu, terdapat kondisi yang berpotensi menyebabkan depresi atipikal, yaitu adanya kelainan pada neurotransmitter yang merupakan senyawa kimia di dalam tubuh yang berfungsi untuk membawa dan mengirimkan pesan antar sel saraf (neuron) atau dari neuron ke berbagai jaringan tubuh.

Selain kelainan pada neurotransmitter, beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya atypical depression adalah:

  • Faktor genetik, yaitu memiliki keluarga dengan riwayat depresi.
  • Stres berat.
  • Trauma.
  • Pengalaman buruk atau tidak menyenangkan di masa kecil.
  • Mengalami pelecehan baik secara fisik, seksual, ataupun emosional.
  • Memiliki riwayat mengonsumsi narkoba.
  • Mengalami kehilangan signifikan, seperti kematian, perceraian, atau perpisahan yang dapat memicu kerentanan terhadap depresi.
  • Menderita penyakit kronis.
  • Konflik interpersonal, misalnya rasa bersalah.

Gejala Depresi Atipikal

Depresi atipikal adalah salah satu tipe dari gangguan depresi mayor. Pasien dengan gangguan depresi mayor mengalami setidaknya 5 dari gejala berikut dalam kurun waktu 2 minggu, atau bahkan bisa lebih.

  • Suasana hati (mood) sedih atau depresi sepanjang hari.
  • Adanya perubahan berat badan atau nafsu makan.
  • Agitasi atau keterbelakangan psikomotor yang diamati oleh orang lain.
  • Kelelahan.
  • Minat terhadap semua atau hampir seluruh aktivitas sepanjang hari berkurang secara nyata.
  • Insomnia (kesulitan tidur) atau hipersomnia (tidur berlebihan).
  • Perasaan bersalah dan tidak berharga.
  • Kesulitan berkonsentrasi.
  • Munculnya keinginan bunuh diri (suicidal thought).

 

Selain gejala memiliki gangguan depresi mayor di atas, pasien dengan depresi atipikal memiliki gejala khas, yaitu reaktivitas suasana hati (mood reactivity).

Klik disini : Tvtogel

Diagnosis Depresi Atipikal

Untuk menegakkan diagnosis, dokter spesialis kejiwaan atau psikiater akan melakukan tanya jawab (anamnesis) mengenai gejala dan riwayat kesehatan mental pasien. Dokter mungkin akan melakukan tes darah, CT scan, atau MRI untuk menyingkirkan apakah terdapat gangguan otak atau kondisi lain yang dapat menyebabkan munculnya gejala depresi.

Selanjutnya, dokter akan melakukan analisis gejala pasien berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Pedoman terbaru DSM-5 menyebut kondisi depresi atipikal sebagai gangguan depresi mayor dengan gejala atipikal (major depressive disorder with atypical features). Adapun kriteria depresi atipikal adalah sebagai berikut:

 

  • Adanya perubahan suasana hati, yaitu kondisi mood yang meningkat atau membaik yang berlangsung sementara, setelah melihat atau mengalami hal positif.
  • Mengalami minimal dua dari gejala berikut selama dua minggu atau lebih:
  • Makan berlebihan atau mengalami kenaikan berat badan.
  1. Tidur berlebihan.
  2. Kelelahan, kelemahan, dan perasaan terbebani.
  3. Sensitif terhadap penolakan sehingga dapat mengakibatkan masalah dalam hubungan sosial dan pekerjaan.

Cara Mengatasi Depresi Atipikal

Pemberian obat-obatan antidepresan adalah salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengobati atypical depression. Obat yang diberikan akan disesuaikan dengan jenis gejala serta kebutuhan pasien. Antidepresan berguna untuk menyeimbangkan neurotransmitter di dalam tubuh, termasuk serotonin (hormon pengatur suasana hati), dopamin (hormon pemberi rasa senang), dan norepinefrin (hormon pengendali stres).

Selain pemberian obat antidepresan, dokter juga dapat merekomendasikan untuk menjalani psikoterapi. Terapi yang paling efektif dalam menangani depresi atipikal adalah terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT).

Terapi CBT dapat membantu seseorang memahami bagaimana pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental. CBT akan membantu pasien yang mengalami depresi dalam mengelola emosi negatif dan ketakutan yang dialami.

Di samping itu, beberapa hal lain  yang dapat dilakukan untuk meringankan gejala depresi atipikal adalah sebagai berikut:

  • Berolahraga dengan rutin dan mengonsumsi makanan bernutrisi.
  • Menerapkan terapi mindfulness atau latihan pernapasan.
  • Menulis jurnal.
  • Mencari dukungan dari orang-orang terdekat untuk berbagi cerita.

Itulah penjelasan mengenai depresi atipikal yang perlu diketahui. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika mengalami beberapa keluhan yang mengarah pada gangguan mental ini.